Rabu, 27 April 2011

Album Pernikahan Kerajaan Inggris sejak 1840

Victoria dan Pangeran Albert, 10 Februari 1840

Victoria dan Pangeran Albert, 10 Februari 1840
Sebagai Ratu muda yang belum menikah, Victoria, ia takut akan disiksa oleh ibunya selama bertahun-tahun. Keberuntungan akhirnya datang “dalam bentuk” Pangeran Albert dari Saxe-Coburg and Gotha, yang lalu dilamar pada 1839. Dia tidak hanya menjadi pendamping Ratu, tetapi juga menjadi penasehat politik di paruh pertama pemerintahannya.



Edward VII dan Putri Alexandra dari Denmark, 10 Maret 1863
Edward VII dan Putri Alexandra dari Denmark, 10 Maret 1863
Saat pernikahannya, Edward anak tertua Victoria ini mendapat berbagai isu di kalangan kerajaan akibat pernikahannya dengan Putri Alexandra. Pertama, banyak dari kerabat ibu Edward adalah orang Jerman, dan Jerman pada waktu itu terlibat perselisihan dengan negara asal Alexandra yaitu wilayah Schleswig Holstein. Lainnya, Edward adalah casanova terkenal, dikabarkan ia pernah berkencan dengan rakyat jelata, bangsawan dan aktris terkenal.

George V dan Putri Mary Teck, 6 Juli 1893
George V dan Putri Mary Teck, 6 Juli 1893
Putri Maria bertunangan dengan Albert Victor, putra tertua Pangeran Wales. Namun Victor meninggal karena pneumonia. Kemudian, nenek pemuda itu, Ratu Victoria, masih meingininkan Putri Mary berada di keluarganya dan memaksa saudara Viktor, George untuk menikahi Mary. Satu tahun setelah kematian Victor, George dinikahkan. George naik tahta pada tahun 1911.

Duke of York dan Lady Elizabeth Bowes Lyon, 26 April 1923
Duke of York dan Lady Elizabeth Bowes Lyon, 26 April 1923
Putra kedua George V telah melamar Elizabeth lebih dari sekali, tetapi ditolak terus, takut pada beban hidup kerajaan, sampai akhirnya mengalah pada tahun 1923. Pernikahan mereka adalah terobosan bagi Elizabeth yang hanya orang biasa. George memiliki kebebasan untuk mewakili gerakan moderasi politik untuk keluarga kerajaan. Dia naik tahta setelah saudaranya turun tahta. Kemudian selama hidupnya, Elizabeth dikenal sebagai Queen Mum.

Duke dan Duchess of Windsor, 3 Juni 1937
Duke dan Duchess of Windsor, 3 Juni 1937
Anak tertua dari Duke of York, bangsawan Windsor, naik tahta sebagai Edward VIII pada bulan Januari 1936, tapi pemerintahannya berumur pendek. Keinginannya untuk menikah dengan sosialita asal Amerika, Wallis Simpson, seorang wanita dengan dua mantan suami, menyebabkan krisis konstitusional, dan Edward memilih untuk turun tahta untuk "menikahi wanita yang aku cinta". Untuk mengakomodasi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, House of Windsor memberi gelar khusus baginya: Duke of Windsor.


Ratu Elizabeth II dan Philip, Duke of Edinburgh, 20 November 1947
Ratu Elizabeth II dan Philip, Duke of Edinburgh, 20 November 1947
Pemimpin monarki pada masanya, bertemu dengan calon suami yang memegang gelar Pangeran dari Yunani dan Denmark ketika berusia 8 tahun. Dan sang Ratu mengkatakan telah jatuh cinta padanya sejak berumur 13. Sebelum pernikahan, Philip meninggalkan gelar Yunani dan Denmark -nya dan dikonversi dari Ortodoks Yunani ke Anglikanisme. Pada awalnya muncul kontroversial pada pasangan ini bahwa Philip tidak memiliki kekayaan pribadi dan, ia yang berkebangsaan Inggris namun lahir di tanah asing. Setelah pernikahan mereka, gelar Duke of Edinburgh diberikan padanya.


Putri Margaret dan Antony Armstrong-Jones, 6 Mei 1960
Putri Margaret dan Antony Armstrong-Jones, 6 Mei 1960
Setelah pertunangan naasnya bersama kapten pelayanan pribadi ayahnya, adik Ratu Elizabeth, Margaret mengumumkan rencananya untuk menikah dengan Armstrong-Jones, seorang fotografer. Upacara pernikahan mereka menjadi yang pertama yang disiarkan televisi. Gelar Earl of Snowdon diberikan untuk pengantin pria, yang menikmati karir yang sangat sukses sebagai seorang pelukis, yang mengkhususkan diri dibidang selebriti dan keluarga kerajaan.


Putri Anne dan Kapten Mark Phillips, 14 November 1973
Putri Anne dan Kapten Mark Phillips, 14 November 1973
Putri tunggal Ratu Elizabeth ini menikah dengan Phillips, letnan pengawal Ratu Dragoon, dalam sebuah upacara di Westminster Abbey yang disiarkan televisi. Kebersamaan mereka berlangsung sampai tahun 1989, hingga berpisah. Tak lama setelah perceraian mereka selesai pada tahun 1992, Anne menikah lagi dengan Timothy Laurence, yang kemudian menjadi komandan angkatan laut kerajaan.


Pangeran Charles dan Lady Diana Spencer, 29 Juni 1981
Pangeran Charles dan Lady Diana Spencer, 29 Juni 1981
Bagaikan sebuah kisah dalam “fairytail”, pernikahan Charles dan Diana dapat dilihat langsung di televisi oleh sekitar 750 juta orang pemirsa di seluruh dunia dan dihadiri oleh sejumlah pemimpin Eropa. Kebahagiaan perkimpoian pasangan itu, berumur pendek. Charles memilih mempertahankan hubungan lamanya dengan Camilla Parker-Bowles. Pada akhir 1980-an, mereka berdua sudah tinggal terpisah, perceraian mereka selesai pada tahun 1996. Satu tahun kemudian, Diana tewas dalam kecelakaan mobil di Prancis.

Pangeran Andrew dan Sarah Ferguson, 23 Juli 1986
Pangeran Andrew dan Sarah Ferguson, 23 Juli 1986
Putra kedua Ratu Elizabeth ini menikah dengan Sarah, yang dikenal sebagai "Fergie," di Westminster Abbey. Setelah pernikahan mereka, Ratu memberikan gelar Duke dan Duchess of York pada mereka. Mereka mengalami pernikahan yang rumit. Andrew sering pergi tugas sebagai angkatan laut kerajaan dan Sarah terlibat hubungan dengan John Bryan, seorang manajer keuangan Amerika yang pernah tertangkap foto mengisap jari kaki sang Duchess yang sedang telanjang. Pasangan itu akhirnya sepakat untuk bercerai pada tahun 1996.

Pangeran Edward dan Sophie Rhys-Jones, 19 Juni '99
Pangeran Edward dan Sophie Rhys-Jones, 19 Juni '99
Pertunangan Pangeran Edward bersama Sophie Rhys-Jones datang di tengah adanya isu bahwa pangeran ini adalah seorang gay. Pada tanggal 19 Juni 99, mereka menikah di Kapel St George di Windsor Castle dalam upacara yang tidak semewah daripada saudara-saudaranya. Setelah kebersamaan mereka, putra bungsu Ratu Elizabeth II ini menjadi Earl of Wessex dan Viscount Severn, sedangkan Sophie menjadi Countess of Wessex.

Pangeran Charles dan Camilla Parker-Bowles, 9 April '05
Pangeran Charles dan Camilla Parker-Bowles, 9 April '05
Camilla Parker-Bowles pertama kali mulai melirik Pangeran Charles pada tahun 1970, dan lebih dari empat dekade, hubungan mereka mengalami pasang surut, bahkan setelah melalui pernikahan pertama mereka. Putri Diana menyalahkan Camilla karena menyebabkan berakhirnya pernikahannya dengan Charles. Charles dan Camilla melanjutkan pacaran mereka setelah perceraian masing-masing dan bertunangan pada tanggal 10 Februari 2005. Mereka menikah dua bulan kemudian, menjadikan mereka sebagai Camilla Princess of Wales dan Duchess of Cornwall and Rothesay.



Pangeran William dan Kate Middleton, 2011
Pangeran William dan Kate Middleton, 2011
William dan Kate bertemu saat menjadi mahasiswa University of St Andrews di Skotlandia dan memulai pacaran selama delapan tahun, yang membuat Kate memperoleh julukan "Waity Katie." Kate, yang dibesarkan di Berkshire, dibanding-bandingkan dengan Putri Diana, mulai dari berkenaan dgn penjahit baju hingga tentang kebenciannya kepada pers. William melamarnya dengan berlian 18-karat dan cincin safir milik ibunya. Pasangan ini mengumumkan pertunangan mereka pada 16 November 2010, dan pernikahan diperkirakan terjadi pada 2011 ini.

Putri Diana Tidak Ingin Pangeran Charles Jadi Raja

Uskup Ramal Pangeran William-Kate Hanya Bertahan Tujuh Tahun?



Seorang uskup lolos dari kecaman Gereja Inggris meski mengatakan, Pangeran William dan Kate Middleton seperti selebriti murahan dan menduga pernikahan mereka bakal hancur berantakan setelah tujuh tahun. Uskup itu, Pete Broadbent, juga mengecam keluarga Kerajaan Inggris sebagai tukang selingkuh dengan banyak catatan pernikahan yang kandas.
Keluarga Kerajaan Inggris, pekan lalu, mengumumkan pertunanganan Pangeran William dengan Kate Middleton, seorang warga biasa yang merupakan putri seorang pengusaha kaya, dan rencana pernikahan akan digelar tahun depan.
Di halaman Facebook-nya, sebagaimana dilansir Daily Mail, Senin (22/11/2010), Uskup Broadbent yang berusia 58 tahun itu menulis, pernikahan William, yang pada suatu hari akan menjadi kepala gereja Inggris, merupakan “omong kosong memuakkan” dan “penipuan nasional” yang dibayar pembayar pajak.
Namun, Istana Lambeth menolak untuk mengutuk komentar sang uskup. Seorang juru bicara Istana mengatakan, “Uskup Broadbent berhak menyatakan pandangannya, tetapi kami akan mengulangi pernyataan kegembiraan besar kami pada kabar dan keinginan pasangan kerajaan itu untuk berbahagia.”
Di samping foto dirinya dengan segelas bir di situs jejaring sosial itu, uskup dari Willesden di barat daya London itu juga mengejek pernikahan Charles dan Diana tahun 1981. “Saya berhasil menghindari bencana terakhir dalam gerakan lambat antara Big Ears dan Porcelain Doll, dan saya berharap bisa menghindari yang satu ini juga,” tulisnya. Dia menambahkan, “Saya tidak peduli dengan Kerajaan. Saya seorang Republik. Sejarah (mencatat): lebih banyak pernikahan kandas dan peselingkuh di antara orang-orang ini daripada yang tidak.”
Uskup itu melanjutkan, “Seperti dengan kebanyakan selebriti murahan, mereka akan dibentuk untuk gagal oleh pers… Saya perkirakan pernikahan itu (hanya) bertahan tujuh tahun.”
Uskup Broadbent bertanggung jawab kepada Ratu, yang akan membuka sesi baru Sinode Umum Selasa besok. Namun, ia mengatakan kepada salah satu temannya di Facebook, “Saya pikir Anda akan mengetahui bahwa Tuhan dan Uskup London merupakan bos saya. Saya seorang warga negara, bukan seorang budak!”
Seorang teman Pangeran Charles (ayah William), anggota parlemen Inggris, Nicholas Soames, menilai komentar uskup itu sebagai sangat kasar dan tidak menunjukkan komentar yang berasal dari seorang uskup. Anggota Sinode, Alison Ruoff, mengatakan, komentar-komentar itu kejam, kekanak-kanakan, tidak penting, dan tidak menujukkan nilai Kristiani.

Kerajaan Yordania

Abdullah II dari Yordania Raja ke-4

as-Sayyid Abdu'llah II bin al-Hussein al Hashimi, Raja Kerajaan Hasyimiyah Yordania (Arab: عبد الله الثاني بن الحسين) (lahir 30 Januari 1962 di Amman, Yordania) adalah Raja Hasyimiyah Kerajaan Yordania sejak 7 Februari 1999. Ia diklaim merupakan generasi langsung ke-43 dari Nabi Muhammad.

Abdullah merupakan putra langsung Raja Hussein dengan Putri Muna al-Hussein, terlahir Antoinette (Toni) Avril Gardiner. Ia memiliki 4 saudara dan 6 saudari.

Pendidikan
Pangeran Abdullah memulai pendidikannya di Islamic Educational College dan menerima pendidikan lanjutan di St. Edmund's School di Surrey, Inggris, Eaglebrook School di Massachusetts, kemudian di Akademi Deerfield di Amerika Serikat. Pada 1980, Pangeran Abdullah memasuki Royal Military Academy Sandhurst di Britania Raya, di mana ia menerima pendidikan militernya.

Pangeran Abdullah menamatkan universitas pada 1984, menjalani setahun kursus Studi Khusus di Politik Internasional dan Urusan Luar Negeri. Setelah kembali, ia melanjutkan kemiliterannya, menambah pengalaman dan bekerja pada jalannya sebagai Kapten dan Komandan Kompi Tank pada Brigade Lapis Baja ke-91. Antara 1986-1987, juga sebagai Kapten, ia bekerja pada Satuan Anti Tank Helikopter AU Royal Jordanian sebagai Instruktor Taktik, di mana ia menerima kualifikasi sebagai Pilot Helikopter Serangan Kobra.

Pada 1987, Pangeran Abdullah mengikuti Fakultas Dinas Luar Negeri di Universitas Georgetown di Washington, D.C., dan tinggal di tempat kerja sebagai Anggota Pertengahan Karier. Ia menjalani Studi dan Riset Lanjutan di Urusan Internasional di bawah bantuan M.Sc dalam Program Dinas Luar Negeri.

Karier militer
Saat kembali, ia diangkat pada Batalion Tank ke-17, Brigade Pengawal Kerajaan ke-2 dan di musim panas 1989, ia menjadi Batalion orang kedua dalam pimpinan, dengan pangkat mayor. Pada 1991, Pangeran Abdullah merupakan Perwakilan Baju Baja dalam Jabatan Inspektur Jenderal. Ia naik pangkat menjadi LetKol di akhir tahun dan mengambil komando Resimen Mobil Lapis Baja ke-2 pada Brigade ke-10.

Pada penyerahan batalion pada Januari 1993, Pangeran Abdullah naik pangkat sebagai Kolonel dan bertugas sebagai Wakil Komandan Angkatan Khusus Yordania. Pada Juni 1994, ia naik pangkat sebagai BrigJen, dan memikul komando Angkatan Khusus Kerajaan Yordania, setelah bertugas sebagai Wakil Komandan selama 6 bulan. Ia diangkat sebagai komandan pada Komando Operasi Khusus pada Oktober 1997, dan pada Mei 1998, ia naik pangkat sebagai MayJen.

Di samping kariernya sebagai opsir pasukan, Pangeran Abdullah telah bertugas di Yordania dalam banyak waktu dalam kapasitas resmi pengawas dalam absennya Raja Hussein, dan ia secara berkala berjalan dengan Raja Hussein. Sebelum naik tahta, Pangeran Abdullah mewakili Yordania dan ayahandanya dalam banyak kunjungan ke seluruh negara di seantero dunia, dan mengembangkan hubungan akrab dengan pemimpin dan pejabat sejumlah negara Arab selama kursus kariernya.

Pernikahan dan anak
Abdullah menikah dengan seorang kelahiran Palestina, Rania Al-Yassin (kini Ratu Rania al-Abdullah) pada 10 Juni 1993. Mereka memiliki empat anak:

* Pangeran Hussein (lahir 28 Juni 1994)
* Putri Iman (lahir 27 September 1996)
* Putri Salma (lahir 26 September 2000)
* Pangeran Hashem (lahir 30 Januari 2005)

Raja Abdullah merupakan pilot dan prajurit tentara payung terjun bebas. Perhatian lainnya ialah balap mobil (ia merupakan mantan Juara Balap Reli Nasional Yordania), olah raga air, penyelaman dan mengumpulkan senjata dan alat perang kuno.

Raja Yordania
Raja Abdullah memangku kekuasaan konstitusionalnya sebagai Raja Yordania pada 7 Februari 1999, hari saat ayahandanya, Raja Hussein bin Talal, mangkat. Raja Abdullah berfokus pada pembangunan warisan yang ditinggalkan Raja Hussein untuk institusionalisasi demokrasi Yordania di masa depan dan pluralisme politik, saat bekerja untuk keadilan dan perdamaian menyeluruh dalam iklim keterbukaan dan toleransi.

Karena sejak pendiriannya Yordania ditopang dari subsidi negara imperialis, kebijakan ekonomi penguasa Yordania tidak lebih selain mengikuti arahan para donatur yang memberikan utang. Jeratan utang ini pulalah yang menyebabkan ambruknya ekonomi Yordania. Atas nama reformasi ekonomi dan perbaikan kualitas hidup, Raja Abdullah II bekerja sama dengan IMF. Rezimnya juga melakukan liberalisasi perdagangan dengan menjadi anggota WTO (2000) serta melakukan perjanjian perdagangan bebas dengan AS. Akibatnya yang menderita ialah rakyat. Utang luar negeri sebagian besar bocor dan masuk ke kantong penguasa. Dan investasi maupun cadangan berada dalam kontrol raja dan kroninya yang terdiri dari para tokoh maupun pejabat. Mereka melakukan utang luar negeri sesuai arahan IMF. Mereka melaksanakan apapun yang dituntut baik dalam masalah dana, budaya maupun sosial. Mereka mendanaianya dengan dana publik dari suap, spekulasi, maupun komisi. Selanjutnya, untuk menyempurnakan aktivitasnya, mereka menyempurnakan UU ekonomi, seperti tentang inestasi, privatisasi, otonomi wilayah Aqobah, pajak umum penjualan, dsb. Ini dilakukan di bawah jargon ‘perbaikan ekonomi’. Ini membuat adanya penjualan tanah dan perusahaan terhadap nonmuslim termasuk Yahudi. Ini mengakibatkan kefakiran, kelaparan, PHK massal, merajalelanya penyakit dan kehinaan. Saat utang itu telah jatuh tempo, untuk menutupi dan membayar bunganya, dengan bantuan pemerintah IMF menaikkan pajak maupun pungutan, meningkatkan harga, mengurangi dana publik dengan memensiundinikan pegawai negeri. Raja Abdullah juga mendukung perang melawan terorismenya AS dengan latih perang bersama antara tentara AS dengan Yordania. Ini kebohongan, karena AS mempersiapkan serangan serangan ke Irak dan penguasa Yordania memfasilitasi AS untuk itu. Sebagai imbalannya, hadiahnya ialah utang.

Tanpa mempertimbangkan hukum syari’at tentang larangan melakukan hubungan ápapun dengan muóuh yang sedang memerangi kaum muslimin, kecuali hubungan perang, pada September 2002 penguasa Yordania melakukan kerja sama dengan Israel. Mereka sepakat membangun saluran air dari Laut Merah ke Laut Mati. Proyek yang menghabiskan dana $800 juta ini merupakan kerja sama terbesar kedua negara.
Dalam Pemilu pertama di bawah pemerintahan Raja Abdullah II pada Juni 2003, dua pertiga kursi dimenangkan loyalis raja, yang kekritisan dan kekonsekuenannya untuk mengurusi urusan rakyat dipertanyakan.

Ratu Rania Menabur Citra Positif Kerajaan Yordania


Rania Al Abdullah adalah permaisuri Kerajaan Yordania, mengikuti statusnya sebagai istri Raja Abdullah II. Berlawanan dengan stereotip wanita dari kalangan jetset Arab yang gemar pamer kekayaan dan berfoya-foya, Rania dikenal luas sebagai sosok perempuan dengan kecantikan berstandar artis internasional, namun tetap bersahaja, cerdas dan aktif melakukan kegiatan sosial serta peduli pada isu-isu pendidikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil.



Ratu Rania Al AbdullahAktivitas Rania dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Yordania, dan kontribusinya pada Millennium Development Goal (MDG) memberinya ganjaran sebagai salah satu dari 100 wanita paling berpengaruh di dunia versi majalah Forbes(urutan 76).

Ketika rakyat beberapa negara Timur-tengah lain yang berbasis monarki atau kediktatoran ramai-ramai berontak menuntut demokrasi penuh, Yordania sejauh ini hanya mengalami sedikit guncangan aksi massa kecil saja. Itu pun tidak menyasar keluarga monarki.

Kerajaan Yordania, walau tidak sekaya tetangganya Arab Saudi atau Uni Emirat Arab, bukanlah negara gagal macam Tunisia atau Yaman. Namun barangkali faktor terpenting yang membuat kondisi sosial-politik mereka tenang adalah karakter pemimpinnya yang mau turun ke bawah dan mengayomi. Mungkin faktor Rania adalah salah satu yang membikin rakyat Yordania agak rikuh untuk mendongkel rajanya... Namun bagaimanapun perkembangan ke depan tidak bisa ditebak.

Rania tidak berasal dari keluarga bangsawan. Dia bahkan bukan orang Yordania asli. Dia lahir di Kuwait pada 31 Agustus 1970 sebagai anak pasangan Palestina yang berasal dari Tulkarm. Nama sebenarnya adalah Rania al Yassin. Dia menempuh pendidikan di New English School di Jabriya, Kuwait, dan melanjutkan ke pendidikan tinggi di American University, Kairo, jurusan administrasi bisnis. Setelah lulus kuliah Rania bekerja di bagian marketing Citibank, sebelum kemudian pindah ke Apple Computer di Amman, ibukota Yordania.

Rania bertemu Raja Yordania Abdullah bin Al-Hussein – saat itu masih pangeran – pada sebuah pesta makan malam. Dua bulan kemudian mereka mengumumkan pertunangan, dan akhirnya menikah pada 10 Juni 1993. Pasca meninggalnya Raja Hussein, Abdullah naik tahta menjadi Raja Yordania pada 7 Februari 1999. Abdullah memproklamirkan istrinya sebagai permaisuri pada tanggal 22 Maret di tahun yang sama. Dengan demikian Rania memiliki status penuh sebagai Ratu. Ini berbeda dengan ibu tirinya, Muna al-Hussein yang tidak pernah diangkat sebagai ratu, sehingga statusnya hanya berhenti sebagai semacam selir raja.

Ratu Rania Al AbdullahPerkawinan Abdullah dan Rania membuahkan empat orang anak, yakni Putra Mahkota Hussein, Putri Iman, Putri Salma, dan Pangeran Hashem.

Rania dikenal sebagai figur perempuan aktif yang memiliki kemampuan istimewa dalam hubungan masyarakat, walau dia tidak memiliki pendidikan formal khusus untuk hal tersebut. Kedudukan sebagai ratu jelas sangat membantunya. Namun tentu dibutuhkan lebih dari sekadar kedudukan untuk bisa tampil sebagai teladan yang tulus. Talenta dan kepribadian individual yang hangat sangat berperan di sini. Dan Rania memiliki itu semua.

Ketika Abdullah naik tahta, pasangan raja dan ratu itu membawa pendekatan yang populis untuk monarki; suatu pendekatan yang lebih meniadakan jarak mereka dengan rakyat. Selain istana, keduanya kerap tinggal di rumah biasa yang terletak di daerah luar kota Amman. Dari situ Rania kerap melakukan kunjungan ke desa-desa terpencil di wilayah kerajaan. Perjalanannya tidak direncanakan dan tidak diumumkan sebelumnya. Dia cukup pergi menyetir sendiri mobilnya dengan disertai dua orang pengawal.

Bagi negaranya, Rania telah banyak berbuat sesuatu, khususnya dalam bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat. Pada 2005, bekerjasama dengan kementrian pendidikan ia dan raja meluncurkan program tahunan the Queen Rania Award for Excellene in Education yang memberi penghargaan kepada guru teladan. Pada 2008, dia melucurkan Madrasati, sebuah program untuk merenovasi 500 sekolah umum Yordania. Sang ratu juga bekerjasama dengan sejumlah universitas di seluruh dunia dalam sebuah program yang dinamakan the Queen Rania Scholarship Program, yakni program pemberian bantuan beasiswa bagi mahasiswa Yordania yang menempuh kuliah di universitas-universitas tersebut.

Di tingkat internasional, pada World Economic Forum tahun 2008 di Davos (Swiss), Rania meluncurkan kampanye "Empowering One Million Arab Youth by 2018". Pada tahun 2000 badan PBB untuk urusan anak-anak UNICEF mengundangnya bergabung pada Global Leadership Initiative. Bersama pemimpin-pemimpin dunia lainnya, antara lain mantan presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, Rania bekerja dalam sebuah gerakan global untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak

Namun di luar segudang prestasi dan aktivitas sosialnya, Rania juga tidak luput dari kritik dan sandungan. Pada saat pasukan Israel membombardir Gaza dan Tepi Barat, dia dicela karena justru pilih melawat keluar negeri. Terlebih yang menjadi sasaran serangan udara Israel adalah Tulkarm, kampung halaman orangtuanya.

Ratu Rania Al AbdullahRania juga dituduh melakukan korupsi dan menyalahgunakan pengaruh politiknya untuk keuntungan keluarganya (nepotisme). Latar belakang Palestinanya juga kerap dipersoalkan secara tak langsung oleh beberapa pemuka masyarakat lokal Yordania, yang menuduhnya mengambil peran terlalu banyak dalam urusan negara dan secara tanpa hak telah memindahkan kepemilikan sejumlah tanah di Yordania untuk keluarganya.

Terkait masalah tanah yang dipersengketakan, 36 orang yang mengklaim diri sebagai pemimpin suku lokal mengeluarkan seruan kepada Raja untuk menyita tanah dan lahan pertanian yang telah diberikan kepada keluarga Yassin (keluarga Rania). Ini merupakan kasus pertama di Yordania di mana masyarakat berani melanggar tabu yang berlaku selama ini dengan menuntut secara hukum keluarga kerajaan.

Pengadilan kerajaan memutuskan menolak klaim mereka, dengan alasan bahwa 36 orang itu hanya mengaku-aku sebagai pemimpin sukunya (padahal bukan). Selain itu berdasarkan keterangan pada sertifikat tanah, pengadilan juga menolak tuduhan mereka mengenai pemindahan kepemilikan tanah pada keluarga Rania secara tidak sah.

Rania barangkali bukan figur yang sempurna macam gading mulus tiada retak. Namun dia adalah pribadi dengan kombinasi kemampuan dan kepekaan sosial yang tinggi; dua skill yang menjadi tuntutan dalam tugas-tugas hubungan masyarakat. Rania adalah staf PR nonformal yang luar biasa buat negaranya. Dan sejauh ini nampaknya pekerjaannya berhasil. Setidaknya penilaian kita atas Yordania agak lain dibanding jika kita melihat, misalnya, Libya atau Yaman.
****

Ratu Rania Al Abdullah